Petra Barus

Can’t Take My Eyes Off of You

You’re just too good to be true.
Can’t take my eyes off you.
You’d be like Heaven to touch.
I wanna hold you so much.
At long last love has arrived
And I thank God I’m alive.
You’re just too good to be true.
Can’t take my eyes off you.


Pikirin lagi. Apa dia pantas untuk ditunggu. Apa dia emang pantes buat kamu. Apa kamu emang pantes buat dia. Pikirin lagi. Semua ini seharusnya bersifat dua arah yang saling mengisi dan melengkapi. Jangan egois. Jangan maksa. Sekali lagi, tolong pikirin lagi.

tina-yuliani:

(via inay)

wah..wah..ada apa nay?

tulisan itu..sepertinya menohok buatku juga.. ^^;

Ikutan reblog deh

Via Live,Love,LeaRn!

When asked if my cup is half-full or half-empty, my only response is that I am thankful I have a cup.

- Sam Lefkowitz (via gatekeeper)

I am thankful I have been blessed another day.

(via kichong)

Via Not Just Anybody

Di Kala Banyak Pintu

Di kala banyak pintu berada untuk dibuka, mengapa diri ini masih berdiri di depan sebuah pintu. Tidak berani untuk mengetuk dan enggan untuk meninggalkan.



(via inay)


Mimpi Itu

Entah kenapa pagi ini aku sangat ingin menulis. Anehnya aku tidak ingin menulis di blog melainkan di sini. Baiklah sekarang aku akan menulis tentang sebuah mimpi beberapa waktu lalu. Seperti beberapa mimpi yang lain yang pernah aku ungkapkan tapi tidak pernah aku ceritakan di sini, kali ini mimpinya cukup ganjil.

Di dalam mimpi ini aku dilahirkan kembali pada tahun yang sama aku lahir tapi di keluarga yang berbeda, di kota yang berbeda, dan dengan nama yang berbeda. Yang mengherankan adalah dari mulai dilahirkan aku diberi kesadaran dan ingatan yang sama dengan aku yang sekarang.

Selama beberapa tahun aku menjalani hidup yang baru ini aku melakukan banyak hal yang tidak sempat aku lakukan selama ini.

Aku menjadi siswa yang penurut dan baik di kelas. Bukan siswa yang bandel dan malas. Aku memperhatikan guru di kelas. Bukan menggambar-gambar seperti dulu karena aku sadar hobi dan keahlianku menggambar tidak pernah ada faedahnya sampai saat ini. Aku sering menjadi juara di kelas. Bukan menjadi siswa dengan peringkat terakhir dan sering terancam tidak naik kelas.

Di tahun-tahun pertamaku di mimpi itu, aku membuat bangga ayahku. Sayangnya ayahku di mimpiku itu adalah orang yang berbeda dengan ayahku yang sekarang. Meski sifat dan karakternya mirip, tetap saja bukan ayahku. Tapi aku yakin seberat apapun aku mengecewakan beliau di tahun-tahun pertamaku di dunia ini, ayahku sekarang tetap bangga dengan diriku yang sekarang.

Tapi dari semua itu aku tidak pernah melakukan hal yang menonjol yang mungkin sebenarnya bisa dengan mudah aku lakukan. Salah satunya saat aku menjadi peringkat peringkat pertama aku tidak berhasrat menjadi seorang siswa jenius yang mampu mengerjakan kalkulus di bangku SMP yang kemudian akan dimasukkan ke dalam sebuah kelas khusus dan disekolahkan ke luar negeri. Aku hanya bisa berharap bahwa sejarah tidak akan berubah.

Ya, aku berharap sejarah tidak berubah. Mungkin banyak yang bertanya mengapa? Toh, itu hanya mimpi.

Aku sadar itu mimpi. Kalaupun pun aku diberi kesempatan untuk dilahirkan kembali seperti di mimpi itu pun mungkin tujuanku tetap ada di tempat yang sama: ITB: Program studiku di ITB dengan seluruh manusianya yang telah aku kenal kini. Terutama seorang wanita menakjubkan yang aku kenal di sana.

Aku tahu sebenarnya aku tidak perlu berusaha terlalu keras untuk masuk ITB karena aku telah mengulang masa-masa sekolah dengan baik bukan seperti yang aku sudah alami. Tapi aku butuh jaminan aku masuk program studi itu. Aku belajar dengan keras, aku mengikuti bimbingan belajar, dan aku mendaftar ujian saringan masuk. Dan aku masuk ITB.

Perasaan bahagia masuk ITB kali ini jauh di atas perasaan bahagia yang sudah aku alami dulu. Dulu aku masuk ITB dengan kecewa karena ITB bukanlah tujuanku. Tapi kini aku tahu bagaimana bahagianya ketika kita telah menunggu hal itu selama belasan tahun dan akhirnya tercapai.

Tiba upacara penerimaan mahasiswa baru. Aku melihat teman-temanku yang sekarang kukenal. Aku melihat mereka satu per satu dan mengingat hal apa saja yang pernah kami lakukan bersama. Akhirnya aku melihat dirinya. Ketika kuingat-ingat memang dirinya telah banyak berubah dari yang dulu hingga sekarang. Rasa rindu ini pun benar-benar sudah tidak terbendung.

Di dalam mimpi, aku bermimpi. Aku membayangkan apa saja yang akan kami lakukan di bangku kuliah ini. Apa saja kesalahan-kesalahan yang pernah kulakukan kepadanya dan ingin kuperbaiki. Ke mana saja akan kuajak dia jalan. Apa saja yang akan kubelikan untuknya. Oleh-oleh apa saja yang akan kubawa kepadanya dari perjalanan-perjalanan jauh yang akan kulakukan. Film apa saja yang sudah diputar selama empat tahun ini yang sangat ingin kutonton bersama dengan dirinya. Seindah-indahnya mimpi yang kualami saat itu, jauh lebih mimpi yang kualami di dalam mimpi itu.

Mimpi di dalam mimpiku itu tidak berlangsung lama. Mimpinya pun sebenarnya hanya beberapa jam tapi terasa bertahun-tahun di dalamnya. Aku tidak bangun. Sesuatu membuat mimpi dalam mimpiku hilang dengan sekejap. Aku melihat diriku.

Aku melihat diriku empat tahun lalu. Aku sadar di dalam mimpi itu aku adalah seseorang yang berbeda. Seseorang yang memiliki kelebihan dibanding diriku saat itu dan diriku yang sedang menulis cerita ini. Lebih dari itu aku tahu bahwa diriku itu pun dalam beberapa tahun kemudian akan mulai menyukai wanita yang sama yang kuimpikan.

Aku di mimpi itu membenci diriku empat tahun lalu itu. Aku di mimpi itupun membenci diriku yang menulis ini. Aku membenci mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku membenci mereka yang pengecut itu.

Pikiranku langsung berkecamuk. Mimpiku buyar dan akupun terbangun. Aku tidak sempat melihat kelanjutan dari mimpi itu. Selama beberapa hari hingga saat ini aku tidak bisa mereka-reka ulang mimpi itu apalagi melanjutkannya. Aku bertanya-tanya mungkinkah karena aku benar-benar tidak tahu apa yang akan diriku dalam mimpi itu lakukan selanjutnya.

Saat mengetikkan ini aku sadar bahwa aku yang sekarang hanya bisa menuliskan tentang mimpi itu sembari berharap akan berjumpa dengannya lagi walau hanya di mimpi.


To be or not to be, kita harus semangat, bukan?

– Pak Rinaldi Munir

Sandalan di IF

  • Gw: *lagi nyiap2in presentasi*
  • Pak Awang: sekarang mahasiswa udah boleh ya pakai sandal di kampus? Peraturannya sudah jadi lunak yah?
  • Gw: Kaki saya keseleo pak
  • Pak Awang: Oh yah? kenapa?
  • Gw: Kecelakaan pak
  • Pak Awang: Oh gitu? Sekarang fit gak buat presentasi?
  • Gw: Yah, khan yang presentasi bukan kaki pak......



Bila topan k’ras melanda hidupmu,
bila putus asa dan letih lesu,
berkat Tuhan satu-satu hitunglah,
kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.


144
To Tumblr, Love Metalab